Ternyata kita merdeka bukan hanya karena senasib sepenanggungan

oleh -158 views

“Ternyata Kita Merdeka Bukan Hanya Karena Senasib Sepenanggungan”
Oleh: Jufri Hardianto Zulfan, S.H., M.H.,
Sudah lebih dari 70 tahun lamanya Indonesia merdeka sebagai suatu negara dan bangsa yang berdaulat, mandiri dan memiliki kekuasaan yang mutlak utuk mengatur kenegaraannya. Kenyataan ini tentunya merupakan suatu anugerah yang Allah Maha Kuasa berikan kepada rakyat Indonesia, yang menandai keberhasilan perjuangan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya.
Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia bukanlah kemerdekaan yang diberikan oleh penjajah baik itu diberikan melalui syarat-syarat ataupun diberikan melalui tanpa syarat tertentu. Sehingga Indonesia merdeka murni karena usaha yang dilakukan oleh segenap anak bangsa. Baik itu berjuang dalam bidang militer ketentaraan, berjuangan dalam bidang diplomasi antar negara, berjuang dalam bidang agama untuk memberikan kesadaran dan mempererat persatuan dan perjuangan dalam bidang-bidang lainnya.
Dahulu, dalam usia kecil, baik itu di sekolah ataupun di tengah-tengah masyarakat kita seringkali mendapati perkataan bahwa Indonesia merdeka karena adanya “rasa senasip sepenanggungan” yang dirasakan oleh bangsa Indonesia atas keberadaan penjajahan Belanda, dan Jepang yang sebenarnya kita juga pernah dijajah oleh bangsa Portugis, Inggris, Spanyol, dan Perancis. Maka pertanyaannya adalah, Apakah dengan mengatakan adanya rasa senasib sepenanggungan menjadi syarat mutlak rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya ? apakah semua rakyat Indonesia merasakan nasib yang sama, nasib yang dijajah dan diperlakukan buruk oleh para penjajah ketika itu ? apakah semua rakyat Indonensia adalah pejuang ? apakah benar tidak ada para pengkhianat bangsa ? jika hal tersebut ada, maka menurut penulis tidak selayaknya menempatkan rasa sepenanggungan menjadi alasan utama dalam meraih kemerdekaan, hal tersebut karena kita harus real, jujur dalam menyajikan sejarah bangsa dan negara kepada para generasi supaya mereka mampu memahami semangat kemerdekaan secara utuh, kokoh, tanpa dipenuhi rasa pertanyaan yang bermacam-macam dan melemahkan pendirian.
Akan tetapi, sejarah membuktikan pada kenyataanya tidak sedikit justru sebagian masyarakat pribumi mengambil keuntungan dari datangnya penjajah kenegeri ini, mencari keuntungan materi, mencari posisi di mata para penjajah seperti yang dialami oleh seorang pahlawan besar bangsa ini yaitu Panglima Jenderal Soedirman yang telah merasakan pahitnya suatu pengkhianatan. Serta bagaimana pula jauh sebelum bangsa ini merdeka, terjadinya persengkokolan atau kerjasama antara kaum pribumi (sejarah juga mencatat persengkokolan suatu kerajaan dengan penjajah juga pernah terjadi) dengan bangsa penjajah seperti halnya yang banyak dituliskan oleh buku-buku sejarah. Belum lagi terdapatnya semacam “mandor” yang membantu penjajah dan mereka digaji dalam mengatur para pekerja pribumi dan terkadang mereka bisa saja lebih kejam dari penjajah itu kepada bangsanya sendiri, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang tidak dapat disebutkan disini satu-persatu. Maka dengan kenyataan demikian tidak tepat kiranya menggunakan rasa senasib sepenanggungan untuk dijadikan alasan utama dalam hal meraih kemerdekaan.
Maka oleh sebab itu penulis mengajukan dua alasan kuat yang menjadi semangat kemerdekaan yang begitu membara dalam diri bangsa Indonesia, baik itu dimasa kerajaan dan berlanjut hingga ke masa penjajahan. Diantaranya adalah:
1. Faktor agama, bangsa Indonesia telah lama sekali menganut kepercayaan dan menyakini adanya tuhan. Sehingga semangat keagamaan tersebut sudah menjadi darah daging dalam diri bangsa Indonesia. dan dalam ketaatan beragama mereka akan selalu mentaati perintah agama dan menjauhi larangan agama. Maka tidak heran jika terdapatnya perjuangan yang rela mati dan syahid dalam membela negara hal tersebut dilandasi oleh ajaran agama seperti yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro dan pahlawan lainnya. Hebatnya, penelitian yang dilakukan oleh Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dalam tulisannya dikatakan bahwa ada sekitar 70 an lebih terdapat kerajaan diseluruh wilayah Indonesia yang menjadikan Islam sebagai dasar negaranya. Hal ini dibuktikan hingga kini bahwa hampir 100% warga negara Indonesia menganut agama Islam dengan semangat yang sama yaitu semangat anti penjajahan. Dengan kenyataan tersebut maka sudah dapat dikatakan bahwa semangat keagamaan merupakan roda pendorong dan penggerak utama upaya perjuangan pembebasan dari penjajahan. Dalam konteks ini penulis tidak mengingkari keberadaaan agama-agama lainnya.
2. Faktor bahasa. Faktor bahasa adalah menjadi faktor penting dalam upaya kemerdekaan, karena dengan adanya faktor bahasa, maka komunikasi antara wilayah dan antar suku bangsa dapat dilaksanakan dengan baik. Lalu bahasa apa yang digunakan oleh bangsa Indonesia tersebut ? jawabannya adalah bahasa Melayu, penjelasan ini dapat pula dibaca dalam buku, penelitian Dr. Adian Husaini tentang revormasi pendidikan bangsa Indonesia. Bahasa melayu merupakan bahasa yang dapat dimengerti dan mudah dilafalkan oleh sebagaian besar masyarakat Indonesia karena bahasa melayu merupakan bahasa yang cepat berkembang terutama didaerah pantai-pantai sebagai daerah transaksi dimasa itu, bahasa melayu bukan hanya berkembang di nusantara saja, tetapi juga berkembang di negara-negara lainnya seperti negara Thailand, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, dan Vietnam serta dengan munculnya kerajaan-kerajaan melayu yang besar ketika itu seperti kerajaan Malaka dan sebagainya. Dan hebatnya lagi hampir keseluruhan bangsa melayu tersebut merupakan bangsa yang menganut dan taat terhadap agama Islam. Maka oleh sebab itulah bahasa melayu menjadi alat komunikasi yang ideal untuk dijadikan bahasa komunikasi antar bangsa pribumi dan hingga kini bahasa Nasona Indonesia pun diketahui merupakan perkembangan dari bahasa melayu itu sendiri.
Oleh sebab hal tersebut lah, maka kesimpulan yang sangat real, jujur dan sesuai adalah alasan utama semangat perjuangan kemerdekaan itu diawali dengan adanya semangat keagamaan yang menolak penjajahan secara keseluruhan, serta adanya alat komunikasi yang tepat antar anak bangsa dalam melanjutkan perjuangannya, dan terakhir terdapatnya rasa simpati dan empati antara anak bangsa terhadap korban, kebengisan dan kejahatan para penjajah terhadap bangsa Indonesia sehingga lahirnya semangat kemerdekaan yang mampu mengorbankan harta dan jiwa dengan tulus ikhlas tanpa menharapkan imbalan dan tanda jasa. Terakhir, kita berharap kepada Allah Sang Maha Pencipta semoga keteladanan, pengorbanan yang dicontohkan oleh para pahlawan mampu menjadikan kita sebagai generasi yang bersyukur, amanah, kokoh dan ikhlas dalam berjuang.