Meluruskan kembali Semangat Nasionalisme Kemerdekaan

oleh -348 views

“Meluruskan Kembali Semangat Nasionalisme”
Oleh : Jufri Hardianto Zulfan, S.H., M.H.,
Kata nasionalisme dalam pemikiran dan dalam benak kita bukanlah sesuatu yang baru dan bukan pula sesuatu yang tabu, sehingga seolah-olah setiap orang dari kita dianggap sudah mampu memberikan pengertian terkait dengan istilah nasionalisme. Istilah nasionalisme jika ditinjau berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan: 1. “paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri”. 2. Kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau actual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabaikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu, semangat kebangsaan”.
Jika diperhatikan secara seksama dan lebih teliti lagi dalam kamus KBBI tersebut bahwa ternyata dalam kamus tersebut tidak mampu memberikan rumusan konkret sekaligus begaimana cara untuk merealisasikan nasionalisme itu sendiri. Karena seringkali karena cinta kepada tanah air seseorang dapat saja menjajah negara orang lain dan bahkan memandang remeh bangsa lain dengan alasan nasionalisme, serta seringkali kita temukan adanya warga negara itu yang juga mengalami kesulitan dalam memahami jati diri bangsanya sendiri serta juga semangat kebangsaan seperti apa yang dimaksud tertulis dalam kamus KBBI dan hebatnya lagi tidak sedikit pula individu-individu di negeri ibu pertiwi dengan menyinggung dan berlindung pada semangat nasionalisme justru berubah menjadi merasa paling paham, paling benar serta seperti yang terviral dewasa ini “merasa paling Pancasilais” sehingga orang lain dapat dikategorikan anti Pancasila. Oleh sebab itu, sudah sangat perlu kiranya diluruskan kembali bagaimana memupuk semangat nasionalisme yang justru tidak melanggar hukum, HAM, agama serta menjujung tinggi nilai-nilai moralitas dan akhlak yang mulia.
Pembahasan mengenai nasionalisme Indonesia tidak akan mampu melepaskan diri dari falsafah bangsa yaitu Pnacasila. Penulis mengacu kepada Pancasila yang sudah menjadi fundamentalnorm serta dasar falsafah hidup bernegara dan berbangsa serta yang sudah menjadi resultant para tokoh bangsa. Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas sebagian dari point-point tersebut yang kemudian disesuaikan dengan semangat nasionalisme bangsa.
Diantara poin pertama yang terdapat dalam Pancasila adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Point utama dalam rumusan Pancasila tersebut bukanlah merupakan rumusan yang sederhana sehingga cukup hanya sekali dibaca lalu kemudian di artikan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung konsekuensi yang logis dan serius terkait dengan kenegaraan dan kebangsaan yang menentuan arah, tujuan dan cita-cita bangsa. Diantaranya yaitu:
1. Kebijakan. Pemerintah sebagai penyelenggara negara dalam setiap kebijakannya tidak diperbolehkan melanggar, berseberangan dengan ketentuan agama, karena rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Rumusan Pancasila adalah terkait dengan keyakinan dan ketuhanan tersebut hanya terdapat didalam agama dan hanya dijalankan oleh mereka yang taat beragama. Sehingga kepatuhan negara terhadap nilai-nilai agama adalah mutlak hal ini dilihat dari sisi poin Pancasila tersebut.
2. Pendidikan. Orientasi pendidikan tidak lagi mengarahkan dan terfokus kepada pembentukan manusia-manusia yang bergelar dan pintar, tetapi juga memfokuskan diri kepada pendekatan akhlukulkarimah (akhlak yang mulia), sehingga setiap siswa, maupun mahaiswa standar kelulusannya bukan hanya mengacu kepada nilai semata. Tapi mengacu kepada bagaimana perbuatan, sifat dan tingkah lakuya baik untuk dirinya sendiri maupun dengan lingkungannya, karena konsep akhlak merupakan konsep yang sangat didahulukan dan bahkan lebih dahulu dari ilmu dan hal ini sudah tertuang dalam rumusan-rumusan keagamaan sebagaimana yang diringkaskan dengan kalimat “ketuhanan Yang Maha Esa” dalam Pancasilan Tersebut. Akhlak dalam agama adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dipisahkan. Diantara adalah akhlak terhadap sang khalik, akhlak terhadap sesama makhluk (manusia, tumbuhan, hewan dan alam semesta).
Ada banyak aspek sebenarnya yang dapat dikaji melalui penerapan kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam rumusan Pancasila tersebut. Rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah rumusan yang menyatakan secara mutlak bahwa Indonesia merupakan negara yang bergama, negara yang mengakui agama serta negara yang patuh terhadap ajaran-ajaran agama. Sehingga justru aneh jika segelintir orang yang merasa warga negara Indonesia justru bersikap anti agama dan bahkan menista agama serta menyakiti para pemeluk agama karena agamanya, maka perbuatan ini dapat disebut sebagai perbuatan “anti” Pancasila yang sesungguhnya. Sehingga sebagai penutup penulis sampaikan bahwa dengan mengacu kepada rumusan poin pertama Pancasila tersebut, Indonesia seharusnya dapat dikatakan sebagai negara yang paling aman dan paling nyaman dalam menjalankan agama dan menjauhi segala yang dilarang oleh agama, sehingga mereka yang menjalankan agamanya maka merekalah yang selayaknya dikatakan sebagai “Pancasilais” karena merekalah yang melaksanakan, menjaga, dan memahami sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Maka oleh sebab itu semangat nasionalisme adalah semangat menjaga, memelihara, melaksanakan apa yang sudah menjadi falsafah dan ketetapan bersama dalam hidup bernegara dan berbangsa.