oleh -108 views

Pancasila Jangan Dimaknai Sekularisme
Oleh: Jufri Hardianto Zulfan, SH., MH
(Pemerhati Hukum dan Politik)

Apakah Pancasila memiliki nilai-nilai yang mengarahkan kepada paham sekularisme?, atau apakah sejarah negar Indonesia pernah mencatatkan menjalankan paham sekularisme dalam hidup bernegara? atau lebih jauh lagi apakah sejak sebelum adanya negara Indonesia ini seperti zaman kerajaan Islam, kerajaan Hindu ataupun Budha menjalankan paham sekularisme di tanah ibu pertiwi ini?
Jika ditinjau berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata sekularisme adalah paham atau kepercayaan yang berpendirian bahwa paham agama tidak dimasukkan dalam urusan politi, negara, atau institusi publik.
Pada awalnya paham sekularisme dilihat dari sisi sejarah berasal dari eropa sekitar abad ke-15 Masehi yaitu ketika dimasa cenkeramanan kekuasaan keagamaan (Gereja) begitu kuat ditanah eropa hingga mengatur disekitaran kehidupan masyarakat Eropa termasuk juga melingkupi dengan kerajaan-kerajaan yang berdiri di Eropa hingga sejarah mencatat terjadinya persitiwa pemisahan kekuasaan agama dengan kekuasaan kenegaraan yang sejalan dengan peristiwa renaissance, hingga kemudian dari peristiwa ini paham sekularisme terus meluas memasuki beberapa negara setelahnya. Bahkan dituliskan bahwa sebelum abad ke-15, Kristen sudah melembaga (Gereja) menguasai semua ranah kehidupan masyarakat. Mulai dari politik, ekonomi, pendidikan, dan semuanya tanpa terkecuali. Ilmu pengetahuan yang menopang majunya suatu peradaban mereka musuhi. Ketika ilmua pada zaman itu menemukan penemuan baru akan dihukum secara sadis karena diangga bertentangan dengan Gereja, seperti Copernicus yang dihukum mati akibat mengemukakan teori Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya). Berabad-abad lamanya mereka mengalami kondisi tersebut hingga sampai adanya pemikiran skeptik terhadag Gereja pada abat ke-17 yang dicetuskan oleh para cendekiawan pada saat itu (sejarah lengkap tentang sekularisme di Eropa dapat pembaca budiman baca di dalam bahan bacaan lainnya yang lebih panjang dan lengkap).
Istilah sekularisme muncul pertama kali pada tahun 1846 oleh George Jacub Holyoake yang menyatakan “sekularisme adalah suau sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah dana terlepas dari agama, wahyu atau supranaturalisme. Pemikiran-pemikiran itulah yang menjadi pemicu munculnya gerakan Renaissance dimana perlawanan terhadap Gereja di berbagai negara Eropa, banyak cendekiawan yang belajar tentang filsafat dan berbagai ilmu pengetahuan ke negara Andalusia (negara maju Muslim ketika itu di Eropa yang sekarang bernama Spanyol).
Adapun di Indonesia, kerajaan-kerajaan di Indonesia selalu saja dipengaruhi oleh unsur-unsur agama seperti unsur agama Hindu dan agama Budha serta juga sekitar 70 lebih kerajaan di Indonesia ini sangat bercorak agamis yaitu agama Islam yang menggunakan gelar, sistem, hukum dengan acuan pada hukum-hukum Islam yang tentu saja berseberangan dengan sejarah kelam Eropa dimasa lalu. Dengan demikian dari sisi sejarah, Indonesia dapat dikatakan tidak pernah memiliki pengalaman ataupun masa terjadinya persinggungan hebat antara agama dan negara dengan begitu kuat hingga munculnya paham sekularisme yang memisahkan antara agama dan negara.
Jika dibahas lebih kedepannya lagi tepatnya setelah Indonesia merdeka dari penjajahan. Indonesia negeri yang baru berdiri tersebut tetap tidak menyatakan diri sebagai negara yang netral ataupun negara yang memisahkan diri dengan agama, hal ini dibuktikan dengan adanya resultante (kesepakatan) oleh para pendiri bangsa tentang dasar negara seperti Pancasila yang juga termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Diantara point utama yang termuat tersebut adalah pernyataan pada poin pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Para ahli telah memberikan penafsiran dan pemahaman dari konsekuensi asas ketuhanan yang maha esa yang dicantumkan dalam Pancasila tersebut diantaranya adalah:
1. Bahwa Indonesia merupakan negara dengan warga negara yang menganut agama tertentu, sehingga tidak dibenarkan kalau terdapat paham atau ideology yang anti agama berkembang di Indonesia dengan alasan hal terebut berlawanan dengan Pancasila.
2. Negara menjaga dan memfasilitasi penyelenggaraan keagamaan, baik itu dari sisi ibadah, keilmuan dan sebagainya.
3. Serta negara memberikan seluas-luasnya hak-hak warga negara untuk menjalankan agamanya dengan baik dan benar.
4. Negara tidak dibenarkan membuat kebijakan atau peraturan yang berseberangan dengan nilai-nilai agama,
5. Serta negara memastikan bahwa agama-agama tersebut tidak dijadikan sebagai bahan untuk adu domba antar anak bangsa dengan berkedok ideology.
Hingga sampai saat ini, keberadaan agama masih tetap eksis dan baik dengan negara Indonesia ini. Dalam literature Islam, keberadaan negara atau kekuasaan merupakan salah satu bagian yang pokok dalam ajaran Islam sehingga disebut ia dengan “siayasah” yang juga akan diberikan ganjaran pahala oleh Allah yang maha Esa setiap kebaikannya. Maka oleh sebab itulah sangat tidak relevan jika ada sebagian dari kita memiliki pandangan yang sinis dan pesimis terhadap hubungan agama dan negara. menempatkan paham-paham dunia Barat ke dalam alam dunia Indonesia tidak akan sepenuhnya sesuai hal ini dikarenakan sejarah yang dialami oleh dunia Barat tersebut berbeda jauh dengan sejarah yang dialami oleh bangsa Indonesia. Maka pentingnya mengetahui sejarah bangsa sendiri akan mampu memberikan pola fikir yang tepat dalam membuat kebijakan ataupun dalam beropini, menyampaikan pendapat. Hal ini dilakukan supaya anak bangsa lebih mengenal sejarahnya sendiri dari pada sejarah bangsa asing yang seringkali dijadikan bahan acuan.
Terakhir penulis berharap kepada Allah yang maha esa, semoga generasi kita menjadi generasi yang bersungguh-sungguh dalam belajar, berguru, mengedepankan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi generasi yang benar-benar kokoh dan benar-benar memiliki pemahaman yang baik terhadap sejarah bangsanya sendiri.