Gubernur Sumbar Panen Raya di Desa Talawi Hilie Dengan Alat Alsintan Lebih Murah

oleh -210 views

Talawi – Pembangunan ekonomi di Sumatera Barat didominasi sektor pembangunan pertanian dengan sumbangan terhadap PDRB sebesar 22,38 persen.

Dan dukungan pertanian tanaman pangan dan hortikultura peran cukup besar yang berkembang baik dalam kegiatan rumah tangga masyarakat di pedesaan maupun di perkotaan

Hal ini diungkapkan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) H Mahyeldi Ansharullah, pada acara panen raya di Desa Talawi Hilie, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Selasa (30/3/21) kemarin.

Hadir juga dalam panen raya tersebut, Kepala Dinas Pertanian Sumbar, Syafrizal, Kepala Humas Setda Sumbar, Hefdi, Sekda Kota Sawahlunto, Forkopimca Talawi dan sejumlah masyarakat Kota Sawahlunto.

Gubernur Sumbar sebutkan, walaupun di tengah wabah Pandemi Covid-19 ini, namun kebutuhan masyarakat akan pangan tentu tidak berhenti, karena itu pemerintah daerah bersama masyarakat khususnya kelompok tani harus berupaya untuk meningkatkan produksi padi yang optimal, sehingga persediaan pangan akan selalu tersedia.

“Karena itu, jangan jadikan petani sebagai pilihan profesi terakhir. Pertanian ini merupakan marwah Sumbar. Ini harus dipertahankan, apalagi leluhur kita merupakan petani. Pertanian ini tentu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Mahyeldi.

Ia katakan, Sumatera Barat sebagai salah satu dari 17 Provinsi penyangga produksi padi nasional, dibebankan amanah untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan, dimana dengan luas lahan sawah baku sesuai perhitungan 194.281 Ha, Sampel Kerangka Area (KSA) sebesar dibebankan target Tanam Padi tahun 2021 yang Sumbar pada tahun 2021 ini sebesar 332.781 Ha dengan target produksi lebih dari 1.548.916 ton.

“Untuk itu kami berharap para petani yang ada disini bisa lebih meningkatkan hasil pertaniaannya, sehingga masyarakat Sawahlunto pun tidak kekurangan pangan, dan Sumbar pada umum akan sejahtera ” sebut Mahyeldi.

Mahyeldi juga sampaikan, untuk mencapai target tanam yang cukup berat ini tentu saja disediakan berbagai fasilitas pendukung, antara lain perbaikan jaringan irigasi, pompanisasi, pembuatan embung, cetak sawah baru dan lainya, semua ini diharapkan dapat meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT) dan akan berdampak pada peningkatan produksi padi di Sumbar.

Disamping itu pemerintah pusat juga membantu petani dengan berbagai alsintan baik untuk pra tanam, panen maupun pasca panen, yang bertujuan mempercepat proses pengolahan tanah dan pascapanen untuk antisipasi makin berkurangya tenaga kerja di lapangan.

Selanjutnya, dalam upaya meningkatkan produksi padi melalui peningkatan produktivitas, diharapkan akan diperoleh melalui penggunaan pupuk yang sesuai saran dan peningkatan penggunaan benih bersertifikat di tingkat petani serta penerapan teknologi tepat guna sesuai spesifik lokasi, antara lain tanam dengan sistem Jajar Legowo (Jarwo) yang sampai saat ini tetap menjadi anjuran teknologi.

“Karena tehnologi Jarwo ini mampu meningkatkan populasi tanaman sampai 30 persen dan mengoptimalkan pertumbuhan tanaman sedemikian rupa sehingga tidak saja populasi tanam yang meningkat, kualitas bulir padi yang dihasilkan akan lebih bagus,” jelasnya.

Dukungan pemerintah melalui dana APBN dan APBD mulai dari saprodi dan berbagai peralatan Alsintan seperti hand traktor, rice tranplanter, pompa air, kultivator, dan alat mesin panen berupa Combine Hasverster serta peralatan pasca panennya.

“Kita sama-sama melihat bagaimana tadi kehebatan mesin traktor yang panen bisa cepat dan memisahkan padi dengan tangkainya. Hasil panen masyarakat Talawi Hilie meningkat menjadi 30 persen karena pakai varitas unggul gadang rumpun,” ucap Mahyeldi.

Pemerintah memfasilitasi peralatan mesin pertanian ini bertujuan untuk menanggung biaya produksi yang selama ini tinggi menjadi lebih rendah dimana dengan mengoptimalkan penggunaan peralatan alsintan ini dapat menanggung biaya produksi sampai 20 persen, kalau selama ini biaya untuk satu priode pertanaman menghabiskan biaya lebih dari Rp 11 juta per Hs, dengan menggunakan alsintan dapat menjadi hanya Rp 7 juta per Ha.

Disamping itu dari data yang ada masih banyak lahan-lahan yang potensial di Kabupaten dan Kota yang masih belum optimal pemanfaatannnya (masih banyaknya lahan tidur) tentu saja hal ini dengan berbagai alasan dan lapangan kerja.

“Kami menghimbau pada pertemuan ini, kita satukan langkah dan komitmen bersama untuk melaksanakan pertanaman semaksimal, salah satu yang dapat dilaksanakan adalah melaksanakan optimalisasi tidur dan lainnya, sehingga optimalisasi lahan yang ada dapat kita capai bersama,” harapnya.

Talawi Hilie, merupakan salah satu kawasan pengembangan padi di Kota Sawahlunto ini. Diharapkan dengan adanya kegiatan panen ini merupakan langkah awal kesuksesan dan akan mengikuti pengembangan tehnologi ini di lokasi-lokasi strategis lainnya. */rls