GOOGLE FORM SEBAGAI PEMANTAU KEGIATAN GURU SAAT SEKOLAH DARING.

oleh -895 views

NskNews.com|Siak- Datangnya wabah COVID-19 di sekitar awal tahun 2020 yang lalu telah membawa warna tersendiri dalam kehidupan manusia. Kebijakan social distancing yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini menimbulkan dampak yang tidak bisa dianggap remeh.Terpukulnya perekonomian dihampir seluruh negara, pergerakan politik yang melambat, berubahnya kehidupan bersosial, serta munculnya budaya baru terutama dibidang teknologi dan kesehatan yang menjadi penyertanya. Tidak terlepas dari bagian segala bidang tersebut adalah pendidikan. Diberlakukannya Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), Work From Home (WFH) dan Belajar Dari Rumah (BDR) dengan model pembelajaran dalam jaringan (daring/online) yang menggunakan berbagai aplikasi, seperti  Rumah Belajar, Google for Education, Ruangguru, Microsoft Teams, CloudX, Cisco Webex, Meja Kita, Icando, IndonesiaX, AyoBlajar, Kelas Pintar, Quipper School, Sekolahmu, Zenius, Zoom Meeting, Live Media Social, Live Youtube, dan ratusan aplikasi e-learning lainnya.

Sedangkan model pembelajaran luar jaringan (luring/offline), seperti radio, televisi, orari, dan tugas terstruktur yang menggunakan modul-modul maupun lembar kerja peserta didik yang dapat dimasukkan ke dalam jenis portofolio, bahkan melakukan Guru Kunjung, yaitu guru yang mengunjungi siswa-siswanya ke rumah. Untuk kemudian mendapatkan pembelajaran, baik secara perseorangan maupun berkelompok di satu wilayah melalui posko belajar.

Atau pula melakukan pembelajaran model campuran daring dan luring yang dikenal dengan Blended Learning. Hal ini dilakukan karena menyesuaikan kondisi dan situasi wilayah serta kemampuan siswa dari masing-masing sekolah.

Apapun model pembelajaran yang diterapkan, tentunya diharapkan dapat berlangsung dengan lancar dan kontinu. Terutama sekali diarahkan agar sesuai Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19), yang menegaskan tidak adanya tuntutan penuntasan kurikulum. Namun lebih kepada kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi COVID-19. Kemudian juga kompetensi dasar dan kompetensi inti yang dikembangkan bisa menyesuaikan kebutuhan dan daya dukung wilayah masing-masing. Serta umpan balik yang diberikan lebih bersifat kualitatif tanpa diharuskan memberikan skor/nilai kualitas. Untuk itulah diperlukan pemantauan dari kepala sekolah yang juga melakukan pengawasan seperti  halnya pembelajaran konvensional sebelum terjadinya pandemi.

Kepala sekolah berperan besar dalam gurat roman wajah satuan pendidikan yang dipimpinnya. Memimpin perencanaan dibidang pengajaran, pengembangan kurikulum, administrasi kepegawaian dan warga sekolah lainnya. Kemudian ikut andil besar sebagai supervisor terlaksananya perencanaan tersebut. Hingga selanjutnya melakukan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan yang sedang dan telah berlangsung. Tak hanya internal di satuan pendidikan, kepala sekolah juga berperan besar merangkul semua pemangku kepentingan sekolah secara harmonis. Dari orangtua/wali murid, komite sekolah, tokoh masyarakat, pengawas sekolah, dinas pendidikan dan kebudayaan, serta pemerintah daerah. Bahkan juga merangkul kemitraan dari perusahaan-perusahaan atau pihak lainnya demi kemajuan sekolah.

Menjalankan tugas dengan maksimal dan mencapai hasil terbaik tentunya harapan semua orang. Begitu pula tugas kepala sekolah yang mencakup segala hal terkait keberlangsungan sekolah. Terutama memastikan berjalannya pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan. Karena sejatinya satuan pendidikan memang lembaga tempat berlangsungnya pembelajaran.

Kepala sekolah memastikan program-program sekolah tersusun dengan baik dalam pengawasannya terhadap bidang akademik atau kurikulum. Seperti tersusun dan disahkannya Dokumen Kurikulum Satuan Pendidikan sebelum tahun pelajaran baru dimulai, pembagian tugas guru dan tenaga kependidikan saat akan dimulainya tahun pelajaran baru, menyusun jadwal pelajaran dan piket harian. Serta menerapkan norma-norma dan kriteria-kriteria yang telah tercantum dalam Dokumen Kurikulum Satuan Pendidikan. Selanjutnya melakukan supervisi ke lapangan, yang tentunya di dalam kelas, untuk memantau proses kegiatan belajar mengajar yang dikoordinir guru.

Pengawasan ke dalam kelas yang dikenal dengan supervisi akademik dilakukan untuk melihat realita kondisi dalam kelas, misalnya: cara guru merencanakan pelaksanaan pembelajaran yang akan diterapkannya, cara guru terlibat aktif dalam pembiasaan sekolah, cara guru membuka pembelajaran, menyampaikan materi, menutup pembelajaran, menyambung komunikasi dengan siswa, merespons dan mengapresiasi siswa, sampai dengan cara memasukkan nilai-nilai kehidupan dari ruang-ruang kelas. Serta tentunya memantau instrumen penilaian yang digunakan guru, untuk menjadikan tagihan sebagai input laporan pencapaian hasil belajar siswa ke orangtua.

Hasil supervisi akademik ini menjadi bahan evaluasi sebagai kekuatan ataupun kelemahan sekolah yang sangat bermanfaat untuk kemajuan sekolah ke depannya. Karena hasil ini dilanjutkan dengan perancangan dan pelaksanaan pengembangan kemampuan guru secara mendiri oleh sekolah melalui In House Training (IHT), atau menjadi input pengembangan guru oleh dinas pendidikan dan kebudayaan, serta pemerintah daerah.

Sistem pengawasan dan pemantauan pembelajaran oleh kepala sekolah di masa pandemi COVID-19 pun mengalami pergeseran.. Untuk mempermudah pengawasan guru pada masa Pendidikan Jarak Jauh, sebagaimana juga dilakukan pembelajaran daring, salah satu aplikasi Google Education khususnya Google form memungkinkan menjadi Lembar Pemantauan Kegiatan PJJ. Google form atau google formulir adalah salah satu layanan dari Google yang membantu penggunanya merencanakan acara, membuat tanya jawab berupa survei,  kuis, atau mengumpulkan informasi dengan fitur formulir online yang mudah dan efisien karena fleksibelitasnya yang dapat  disusun sesuai dengan kebutuhan. Aplikasi ini juga memungkinkan sang penyusun pertanyaan memberi skor langsung kepada penjawab. Datanya yang terkumpul ke Google Drive pun diyakini aman dan tentunya real time.

Adapun langkah-langkah menyusun Google form menjadi Lembar Pemantauan Kegiatan PJJ adalah sebagai berikut:

  1. Login pada akun Google pribadi. Jika belum memiliki akun, tentunya harus registrasi terlebih dahulu.
  2. Di dalam akun Google, pilih menu “Drive>Lainnya>Google Formulir.”
  3. Masukkan judul, contohnya “Lembar Pemantauan Kegiatan PJJ Guru SMP Negeri 1 Lubuk Dalam”.
  4. Masukkan nama file, contohnya “Lembar 1 Pemantauan PJJ”, untuk lebih menarik pilih tema back ground sesuai yang diinginkan.
  5. Tambahkan instrumen pengukuran, seperti pertanyaan, pernyataan, dan bukti tagihan yang diinginkan. Contohnya: identitas guru, (nama, nip, jenis kelamin, mata pelajaran, mengajar di kelas), PJJ yang digunakan, jenis platform, bentuk bimbingan terhadap siswa, tagihan bimbingan guru, kesan PJJ.
  6. Jika ingin memeriksa hasil tampilan, klik pratinjau
  7. Klik “pengaturan>presentasi>ketik pesan konfirmasi”, contohnya: Terima kasih. Tanggapan Anda akan diverifikasi sebagai laporan sekolah.

Klik “kirim>link>copy”, untuk mengambil tautan dan membagikannya ke responden (guru).

Setelah tautan direspons guru, supervisor dapat melihat hasil dengan cara sebagai berikut:

  1. Login akun email dan masuk ke formulir yang diinginkan.
  2. Klik “respons” akan tampil jumlah responden, ringkasan data yang berbentuk diagram.
  3. Tampilan lain dari respons yang berbentuk dokumen excel, klik “Lihat respons di Spreadsheet

Data akan tersimpan di Google Drive dan dapat digunakan sewaktu-waktu.]

Model pemantauan ini pada awalnya menimbulkan kebingungan di kalangan guru. Selain karena tidak terbiasa berkutat dengan link/tautan, menggeser paradigma umum, hingga membiasakan tanggap teknologi. Tentunya guru terus menerus dimotivasi untuk berani mencoba dan pantang menyerah. Namun untuk guru-guru yang telah senior berdasar usia, tetap harus dibantu mencarikan jalan keluar atas ekspresi keputus asaannya. Dengan meminta bantuan guru muda mendampingi mengisi link tersebut. Di samping itu, pemantauan online ini diupayakan agar dilakukan secara berkala. Sehingga guru bersemangat terus mencoba, karena melihat keterpakaiannya terus menerus, dan praktis di mana saja.

Alah Bisa Karena Biasa. Sesulit apa pun, kalau dibiasakan melakukannya akan menjadi mudah dan lihai. Demikianlah teknologi memaksa kita untuk biasa. Tentunya harapan pembiasaan tanggap teknologi ini juga dapat tertular dengan baik kepada para siswa.

Dirilils oleh : Elpiandis, S. Pd., M. Pd
Editor : Nsknews.com