BKKBN Sulsel Sosialisasikan KIE Program Bangga Kencana

oleh -1.807 views

Makassar — Ashabul Kahfi sebagai Anggota DPR RI Komisi IX, membuka acara “Sosialisasi Advokasi dan KIE Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja” secara daring bertempat di Arbor Biz Hotel Makassar, Kompleks KIMA Square, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sabtu (18/122021).

Kahfi menerangkan kepada masyarakat akan bahayanya Stunting, yakni kondisi kekurangan gizi bagi anak. Dia mengajak para pasangan subur untuk merencanakan masa depan keluarga sejak dini dengan merencanakan kelahiran dan merencanakan pendidikan untuk anak.

Ia menejelaskan, bahwa stunting adalah kondisi kekurangan gizi parah yang dialami anak sejak didalam masa kehamilan, sehingga mengakibatkan perkembangan fisik dan otaknya terganggu.

“Para ibu hamil mesti memenuhi gizi calon bayinya semenjak masa kehamilan hingga seribu hari kelahiran nanti, agar anak yang ia lahirkan terhindar dari stunting,” ujarnya.

Sebelum menutup sambutannya, Fahmi memberikan doorprize 1 unit TV 32 inch.

Sementara, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN Pusat, dr. Irma Ardiana menyampaikan, upaya terus dimaksimalkan untuk percepatan penurunan stunting.

“Penekanan pendekatan hulu, bisa kita rencanakan bagi keluarga masing-masing,” ucapnya.

Ke depan, BKKBN akan mendampingi mereka yang akan menikah, Ibu hamil dan bayi dibawah usia dua tahun (baduta). Mereka akan mendatangi rumah secara langsung, sehingga secara tidak langsung akan memperoleh informasi dan data primer terkait kondisi mereka yang akan menikah, ibu hamil dan baduta.

“Seperti informasi usia yang akan menikah dan status kesehatannya seperti anemia, kemudian juga berat dan panjang badan bayi baru lahir,” ungkapnya.

Hadir pula perwakilan OPD KB Kota Makassar Muh. Ramli menyampaikan bahwa stunting tidak dapat diobati, tapi dapat dicegah.

“Ketika anak sudah mengalami stunting, perkembangan otak dan tumbuh kembangnya terganggu, fungsinya menjadi tidak optimal,” bebernya.

Lantas, lanjut Ramli, asupan gizi dan pola pengasuhan anak menjadi penting dalam menentukan intervensi untuk mengurangi angka stunting mulai dari periode 1000 hari pertama kehidupan dari anak.

“Anak harus sangat diperhatikan pola pengasuhannya hingga mencapai usia 2 tahun untuk mencegah anak mengalami stunting. Karena apabila sudah mengalami stunting maka tidak dapat disembuhkan, dampaknya menjadi permanen,” jelasnya.

Ditempat yang sama, Kepala Bidang Advokasi, Penggerakan, dan Informasi perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, menyampaikan tiga sasaran utama dalam program percepatan calon pengantin, ibu hamil, dan juga keluarga yang memiliki balita.

Pasalnya, ucap ketiga sasaran sosialisai ini adalah penyumbang terbesar pada angka kasus stunting khususnya di Sulawesi Selatan.

“Untuk itu, kami berharap masyarakat peduli bersama terhadap kasus stunting ini. Karena hal ini adalah masalah bersama dan bertugas bersama untuk mengentaskan stunting tersebut untuk generasi lebih baik,” tutupnya.