Kejaksaan Pekanbaru Tidak Profesional Menagani Laporan Pemuda Milenial

oleh -191 views

Pekanbaru — Masih mandeknya kelanjutan proses hukum terhadap laporan yang dilayangkan oleh Pemuda milenial pekanbaru, membuat masyarakat bertanya tanya tentang keseriusan kejaksaan pekanbaru dalam menangani perkara tersebut.Hal ini tidak lepas dari belum adanya kemajuan dari perkara tersebut. Padahal dari laporan Pemuda Milenial Pekanbaru ada indikasi kerugian negara yang mencapai 50 milyar.

Diketahui, bahwa Teva Iris, yang di dampingi oleh Pemuda Lira, Sucipto dan rekan-rekan pada Februari lalu secara resmi telah melaporkan dugaan korupsi 50 Milyar Lebih di masa sekwan dipimpin oleh Plt Badria Rikasari (BR). Namun laporan yang telah lima bulan itu belum ada kejelasan kejaksaan Negeri Pekanbaru dalam menanganinya. Bahkan ada indikasi kejaksaan Negeri seperti enggan untuk memproses laporan tersebut.

Padahal korupsi yang berjumlah fantastis tersebut seharusnya menjadi prioritas bagi kejaksaaan negeri pekanbaru. Karena kerugian negara yang ditimbulkan sungguh besar. Agar nanti tidak menjadi preseden buruk bagi instansi pengacara negara tersebut. Sebab hingga saat ini masyarakat masih menanti kejaksaan untuk bisa memberikan info dan kepastian hukum dalam perkara tersebut.

Menurut Ketua Pemuda milenial Pekanbaru kejaksaan harus serius untuk memproses laporan yang telah dibuat. Karena kerugian Negara yang ditimbulkan oleh korupsi tersebut sangat besar yakni 50 milyar. Namun hingga lima bulan setelah laporan kasus korupsi tersebut seperti jalan ditempat bahkan seperti enggan untuk memprosesnya.

“Sebagai warga yang baik dan taat hukum tentu jika ada hal hal yang terindikasi melanggar hukum wajib untuk membuat laporan. Apalagi jika pelanggaran tersebut adalah korupsi. Sebab Pemuda milenial sadar bahwa korupsi tidak boleh hidup dan berkembang di negara ini. Sebab korupsi dapat menghancurkan sendi sendi bernegara.”ujar Teva iris.

“Korupsi adalah musuh bersama di negara ini. Jadi kalau sebagai warga yang baik tidak berani melapor, tentu hal ini menjadikan korupsi tumbuh dan berkembang di negara ini. Karena itulah kami buat laporan ke kejaksaan negeri pekanbaru agar pihak pihak yang melakukan korupsi tersebut dapat diberi ganjaran sesuai dengan aturan dan hukum berlaku.”

“Tapi betapa sedih dan kecewanya kami sebagai warga negara yang baik setelah 5 bulan laporan yang kami sampaikan hingga kini belum ada kejelasan. Bahkan ada info yang kami dengar bahwa laporan tersebut diserahkan ke Inspektorat untuk ditangani. Sungguh suatu yang naif dan ironi jika benar laporan korupsi tersebut harus ditangani oleh inspektorat yang notabene adalah lingkaran didalam pemerintahan kota pekanbaru. Seharusnya Alat penegak hukum mendukung Pemuda Milenial Pekanbaru ataupun setiap warga negara yang melaporkan temuan korupsi. Laporan dari masyarakat mengindekasikan bahwa masyarakat juga peduli pada pembangunan dan penegakan hukum. Ini adalah bentuk peran aktif masyarakat dalam membantu APH dalam memberantas korupsi di Riau.”imbuh Teva Iris.

Melihat tidak kunjungnya penanganan laporan tersebut, Pemuda Melineal meminta agar Jaksa Agung untuk bisa melakukan tindakan tegas kepada kejari pekanbaru. Sebab ada indikasi bahwa kejaksaan Pekanbaru enggan memproses setiap masalah korupsi dan seperti tutup mata untuk masalah korupsi. Padahal Negara sudah sangat jelas menyampaikan bahwa korupsi adalah musuh utama yang harus dilawan. Selain itu enggan nya Kejaksaan Pekanbaru menangani korupsi di Sekwan memperlihatkan bahwa para pejabat yang kini duduk di Kejaksaan Negeri Pekanbaru tidak bisa bekerja secara profesional dalam menangani perkara. Tentu hal itu membuat citra Kejagung yang kini sudah baik kembali tercoreng oleh oknum oknum yang ingin bermain main dengan hukum.